Halaman

Rabu, 16 Mei 2012

Kala Mbah Gunung Salak 'Mengatur' Cuaca




BOGOR - Di Puncak Manik atau Puncak Salak Satu Gunung Salak, yang dijadikan tempat evakuasi korban kecelakaan pesawat Shukoi Super Jet 100, terdapat makam yang terbuat dari keramik putih.

Di atas kuburan tersebut, terdapat batu nisan bertuliskan 'Raden KH Moh Hasan Bin R KH Bahyudin Praja Kusumah (Mbah Gunung Salak) Puncak Manik Gunung Salak'.

Kuburan tersebut lah yang dianggap sang kuncen cukup menentukan cuaca di Puncak Manik. Entah kenapa, setelah kuburan tersebut rusak karena tertimpa logistik yang dilemparkan dari atas Helikopter Super Puma, cuaca langsung berkabut.

Kemudian, seorang pria datang dan mengaku sebagai kuncen Gunung Salak. Ia lalu berdoa di atas makam tersebut. Tak lama, kabut pun perlahan menghilang. Kemudian, ia langsung berbicara dengan Letkol Shobri dari Kopassus dan Dandim.

"Kayaknya ia tidak rido, sehingga cuaca seperti ini. Bagaimana kalau kuburan tersebut dikelilingi tali biar tidak terganggu," ujarnya memberi usul.

Tanpa banyak bicara lagi, pimpinan tim evakuasi di Puncak Manik langsung mengiyakan permintaan sang kuncen, dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk memagar kuburan tersebut dengan tambang kuning.

"Saya pun tadi sudah meminta supaya mohon dimaafkan bila ada sesuatu, baik sebelum, sudah, dan akan terjadi. Memang kita tidak minta izin lebih dulu terhadap yang ada di sini," Ucap Letkol Shobri menimpali pernyataan sang kuncen.

"Kami akan membangun kembali kuburan ini nanti," cetus Shobri.

Setelah pembicaraan tersebut, cuaca kembali agak terang. Namun, ketika anggota TNI pada Senin (14/5/2012) menebangi pohon di Puncak Manik, kabut kembali turun, terutama ketika tanggul pohon di atas kuburan tersebut ditebang, dengan alasan untuk membuat helipad.

Namun, setelah ada dua warga yang berdoa, kabut perlahan menghilang lagi. Tapi, penebangan pohon lain terus dilakukan di sekitar Puncak Manik, hingga akhirnya hujan turun sekitar pukul 13.00 WIB. Seolah-olah, orang yang di dalam kubur tersebut mampu 'mengatur' cuaca di Puncak Manik.

Tidak banyak warga yang tahu asal-usul orang yang dikubur di tempat tersebut, yang lokasinya tepat berada di Puncak Manik.

"Saya tidak tahu sejak kapan kuburan tersebut ada," Kata Ading (61), warga sekitar saat ditemui Tribun.

Namun, menurut Ading, keturunan orang yang berada di makam tersebut ada banyak di Cijeruk, Bogor. Tapi, Ading tidak mengetahuinya persis. Menurut warga, orang yang berada di dalam kubur tersebut berasal dari Banten. Terkait kenapa bisa dikuburkan di Puncak Manik, tak seorang pun tahu.
"Bukan hanya ini, dari arah Cidahu pun juga ada kuburan," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar